Jihad memberantas hoax
Dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebuah prinsip dasar dalam menyikapi sebuah isu yang beredar dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS Al-Hujurat: 6).
Media sosial di zaman sekarang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Namun sayangnya, banyak sekali media sosial sekarang ini berisi sampah berupa berita-berita hoax yang tidak jelas sumbernya, sehingga menimbulkan kekacauan dan kegaduhan. Oleh karenanya, kita harus cerdas menyikapi hal ini agar tidak menjadi korban hoax.
Islam mengajarkan kepada kita agar selektif dalam menyikapi berita, sebab tidak semua berita yang terima mesti benar adanya sesuai dengan fakta, lebih-lebih pada zaman sekarang di mana kejujuran sangat mahal harganya.
Ibnu Baadis mengatakan, “Tidak semua yang kita dengar dan kita lihat harus diyakini oleh hati-hati kita, tetapi hendaknya kita mengeceknya dan memikirkannya secara matang. Jika memang terbukti dengan bukti nyata, maka kita mempercayainya, tetapi jika tidak, maka kita meninggalkannya.” (Ushul Hidayah hlm. 97).
Di dalam ayat yang kami cantumkan dalam gambar di atas, terdapat pelajaran berharga bagi setiap mukmin yang perhatian terhadap agama dalam berinteraksi dengan saudara seimannya, hendaknya selektif terhadap hembusan isu yang bertujuan untuk meretakkan barisan, memperuncing api permusuhan, dan memperlebar sayap perpecahan.
Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, “Diharuskan bagi seorang yang ingin menilai suatu ucapan, perbuatan, atau golongan untuk berhati-hati dalam menukil dan tidak memastikan kecuali benar-benar terbukti. Tidak boleh mencukupkan diri hanya pada isu yang beredar, apalagi jika hal itu menjurus kepada celaan kepada seorang ulama.” (Dzail Tibril Masbuk hlm. 4 karya As Sakhowi).
Penulis: Ustaz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi
Artikel: Muslim.or.id