Kitab Tazkiyatun Nufs-Pertemuan ke-01-Mukadimah Tazkiyatun Nufs

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                    Whatsapp             
       Grup Islam Sunnah | GiS
         ☛ Pertemuan ke-01
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com

👤  Oleh : Ustadz Zaenuddin Khuzairi Lc حفظه الله تعالى

📚 Kitab Tazkiyatun Nufs

💽 Audio ke-01 dari 10 : Mukadimah Tazkiyatun Nufs

══════════════════

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله  محمدا عبد لله وعلى آله وصحبه ومن تابيءهداه إلا يوم القيمة اما بعد

Ma’asyira al muslimin (معاشر المسلمين) di mana pun anda berada dan terutama kepada seluruh peserta Grup Islam Sunnah azzakumullah.

Pada pertemuan kita di halaqah yang pertama kali ini, kita akan memberikan pendahuluan dan kita informasikan juga bahwa pembahasan kita, kita sarikan dari kitab

[ عَشْرُ قَوَاعِد فِيْ تَزْكِيَةِ النَفْسَ ]

“Sepuluh Kaidah Pensucian Jiwa” yang ditulis/buah karya dari Syaikh Abdurrazaq Ibnu Abdul Muhsin Al Abbad Al-Badr hafidzahullahu ta’ala.

Pada pendahuluan kali ini kita akan membahas terlebih dahulu tentang definisi tazkiyatun nafs.

Tazkiyah itu berasal dari kata-kata
زَكَّى zakka , يُزَكِّي  yuzakki ,
تَزْكِيَةً tazkiyatan 
yang asal katanya berarti adalah mengembangkan atau bisa juga berarti mensucikan.

Lalu kemudian kata An-nafs [ النفس ], kata النفس ini memiliki beberapa makna:

(1) An-nafs [ النفس ] berarti adalah manusia seutuhnya, ya dhahir dan juga bathinnya.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada permulaan dari Surat An-Nisa:

{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ }

“Wahai manusia bertaqwalah kalian kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dari [ نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ ] manusia yang satu”
(QS. An Nisa: 1)

Para ulama tafsir mengatakan yang dimaksud dengan
نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ
(manusia yang satu) di sini yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam yang berarti ini menunjukkan kata Nafs [ نفس ] bahwa dia adalah manusia seutuhnya.

(2) Kata An-nafs النفس berarti adalah ruh dan dia disebut dengan النفس karena dia masih menyatu dengan raga.

Sebagaimana di akhir dari surat Al Fajr Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

{ يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً }

“Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Rabbmu dalam keadaan ridha dan diridhai” (QS. Al Fajr: 27-28)

Kata النفس di sini maknanya adalah ruh. Namun karena ia masih ada di dalam badan (tubuh) maka dia disebut dengan النفس. Apabila dia keluar dari tubuh maka disebut dia dengan ruh.

Lalu kemudian di antara makna An-nafs juga itu berarti adalah hati ( القلب )

Jadi النفس  juga berarti adalah القلب. Yang dimaksud dengan القلب di sini adalah hati yang bathin bukan yang dhahir. Sebab kalau yang dhahir itu maknanya adalah jantung, قلب berarti jantung.

Mari sama-sama dengan seksama kita perhatikan hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih dimana Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan,

( أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ )

“Ingat bahwa di dalam tubuh kita ini ada segumpal daging, kalau dia baik maka tubuh jadi baik, kalau dia buruk maka tubuh pun menjadi buruk, yaitu adalah Al Qabl.”
(HR. Bukhari: 52 dan Muslim: 1599)

Al Qabl yang dhahir -arti yang dhahir itu dia adalah ada gumpalan dagingnya- itu adalah jantung.

Dan Rasul Shalahu ‘alaihi wa Sallam memperumpamakan jantung bagi tubuh yang dhahir ini; kalau dia baik maka anggota tubuh yang lain pun menjadi baik karena dialah yang memompa darah dan juga yang mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh.

Tapi yang dimaksud oleh Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam hadits ini beliau perumpamakan yang dhahir ini menjelaskan yang bathin. Yang dimaksud dengan Al-Qalb [ القلب ] di sini adalah hati yang bathin yang maknanya -wallahu alam- semakna dengan An-Nafs [ النفس ].

GiS | BANK MATERI:
Oleh karena itulah perhatian terhadap urusan bathin kita menjadi lebih sangat penting karena tadi kata An Nafs bisa berarti “ruh”, bisa berarti “al qalb” walaupun dia pun bisa berarti “tubuh secara keseluruhan”.

Tetapi tubuh mengikuti anggota hati, anggota tubuh mengikuti hati. Seluruh anggota tubuh kita mengikuti hati. Hati adalah rajanya, yang mengendalikannya. Ruh lah yang sebenarnya berbahagia, ruh juga lah yang merasakan ketentraman, sedangkan tubuh hanyalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh ruh. Dan tubuh menjadi kendaraannya hati dan ruh.

Oleh karena itulah maka perhatian kita terhadap bathin kita semestinya jauh lebih baik lagi, jauh lebih banyak lagi dibandingkan kepada dhahir. Bukan berarti tidak memperhatikan dhahir karena nanti juga ada hukum-hukum terkait dengan hukum-hukum dhahir juga.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam surat Asy Syams:

{ وَنَفۡسٍ وَمَا سَوّٰٮهَا }

“Dan demi jiwa”

Bisa juga berarti demi manusia dan apa yang Allah sempurnakan penciptaannya.

{ فَاَلۡهَمَهَا فُجُوۡرَهَا وَتَقۡوٰٮهَا }

Allah ilhamkan yang “fujur”, yang buruk

{ وَتَقۡوٰٮهَا }

Dan ketaqwaan yang baik

{ قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ زَكّٰٮهَا }

Maka beruntunglah orang yang berusaha mensucikan dirinya, jiwanya, hatinya, bathinnya dan juga bahkan seluruh tubuhnya

{ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰهَاۗ }

Dan sungguh sangat merugi orang yang menyia-nyiakannya atau menyembunyikan potensi baiknya lalu kemudian (sehingga) potensi buruknya yang jauh lebih dominan.
(QS. Asy Syams: 7-10)

Maka makna Tazkiyatun Nafs adalah mensucikan diri kita secara keseluruhan, secara utuh, ya dhahir ya batin, namun memang titik tekan lebih kepada bathin karena dialah yang menjadi penggerak dhahir, penggerak tubuh, dan penggerak badan kita.

Ma’asyira al muslimin (معاشر المسلمين) di mana pun anda berada dan terutama kepada seluruh peserta Grup Islam Sunnah ‘azzakumullah.

Setelah kita membahas tentang apa yang dimaksud dengan tazkiyatun nafs, maka kita akan menjelaskan secara ringkas apa saja yang mesti dilakukan oleh seorang muslim untuk melakukan tazkiyatun nafs secara umum.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan ruh kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga yang menciptakan anggota tubuh kita, seluruhnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang paling mengerti, Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang paling tahu apa yang maslahat bagi ruh kita, bagi jiwa kita, bagi tubuh kita, bagi fisik/badan kita, bagi akal pikiran kita. Semuanya tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui, Al ‘Alim Al Khabir.

Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan kitab. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para utusan yang dimana mereka di antara tugas mereka adalah memberitahukan kepada kita bagaimana cara mengembangkan, membersihkan ruh kita, jiwa kita, bathin kita, hati kita, dan juga bagaimana menjaga tubuh kita agar tetap sesuai dengan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan.

Maka oleh karena itu, semua aturan-aturan syariat yang terkait dengan dhahir misalnya seperti wudhu misalnya, lalu kemudian mandi janabat, kemudian istinja; itu semua adalah merupakan fitrah. Sesuai dengan fitrah kita, sesuai dengan fisik kita, sesuai dengan tubuh kita.

Lalu kemudian ibadah yang berupa shalat termasuk gerakan-gerakannya, ya itu juga bermanfaat bagi hati kita juga. Apa yang kita baca itu bermanfaat buat hati kita juga, tentu bermanfaat buat tubuh kita juga. Begitu juga shaum (puasa), begitu juga zakat, begitu juga haji, dan seterusnya. Karena ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan ibadah-ibadah tersebut dalam rangka untuk mentazkiyah diri kita, mensucikan diri kita baik dzahir ataupun bathin.

Oleh karena itulah semua syariat, itu dalam rangka untuk tazkiyatun nafs. Semua yang Allah perintahkan, seluruh yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ajarkan, semuanya bertujuan untuk memperbaiki, menjaga, memelihara, memperindah, memperbagus diri kita ya dzhahir dan juga bathin, ya luar ya juga dalam, kedua-duanya.

Maka maslahat  yang betul-betul ingin diraih dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita, iya dia adalah maslahat yang dzhahirah, maslahat yang terkait dengan yang dzhahir juga maslahat yang terkait dengan bathin kita.

Mari kita sama-sama ikhwatal iman ‘azzakumullah..
Kita berusaha untuk meraih kesucian, kebaikan pada dzahir kita dengan menunaikan syariat-syariat yang terkait dengan dzahir kita dan juga kita mengerjakan amalan-amalan yang dengan amalan-amalan tersebut teraih juga kesucian bathin kita, kebaikan hati kita, dan juga kesucian ruh kita, jiwa kita.

Wallahu ta’ala a’la wa a’lam

وصلى الله على نبينا محمد و آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ   

Materi ini dikirim ke GIS, Grup Islam Sunnah, oleh Zainuddin Khuzairi
Dan direkam di Jakarta

══════ ∴ |GiS| ∴ ══════ 

📣 Official Account Grup Islam Sunnah

🌏 WebsiteGiS: grupislamsunnah.com
📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *